Fenomena Legging di Kalangan Wanita Muslimah

Selasa, 09 Agustus 2011


Ngeri juga rasanya ketika banyak kita dapati remaja putri bahkan para ibu sekalipun amat biasa mengenakan celana legging di luar rumah. Kini celana super ketat dan tipis yang dikenakan oleh kaum hawa ini sudah biasa kita jumpai di tempat-tempat umum seperti di mall kampus, dan tempat keramaian lainnya. Ironisnya, para muslimah yang sudah mengenakan jilbab pun jadi kepincut untuk mengenakannya juga. Katanya, fashion!. Tak peduli apakah ia gemuk, ia langsing, ia tetap enjoy saja melenggang berjalan di keramaian mengenakan celana legging yang mempertontonkan bentuk lekuk kakinya.

Yah, fenomena legging memang membuat miris bagi kaum hawa yang sudah mengerti bagaimana berpakaian sesuai syariat Islam. Saat melihat seorang wanita berjilbab mengenakan bawahan legging dengan atasan yang hanya sampai selutut atau bahkan hanya sampai menutup pantat, reflek akan muncul komentar,”Kok tega-teganya sih berjilbab tapi bawahannya pakai celana legging?” Bahkan masyarakat awam pun juga ikut berkomentar miring,”Jilbaban kok ya masih pakai celana legging?”.

Ada pula celana legging yang sedemikian ketat masih pula dipadukan dengan atasan yang ketat pula. Sudah pasti setiap lekuk tubuhnya akan terlihat jelas, bahkan (maaf) sampai memperlihatkan garis-garis celana dalamnnya. Tumpukan lemak yang berlebih pun tak menghalangi bagi mereka untuk mengikuti fashion, mengenakan celana legging. Padahal di atasnya, meskipun mini dan tipis, mereka berusaha menutupi kepalanya dengan jilbab.

Tentu pemandangan seperti ini jadi “santapan gratis” bagi para kaum adam yang tidak bisa menjaga pandangannya. Bagian-bagian yang menonjol dari tubuhnya-saking ketatnya pakaian yang dikenakan-jadi Nampak jelas. Tentu ini mengundang nafsu birahi bagi kaum adam yang melihatnya.

Sayangnya, banyak kaum hawa justru tidak terlalu mepedulikan hal ini. Entah atas alasan apa mereka tetap nekat mengenakan celana legging yang dengan jelas memperlihatkan bentuk lekuk kakinya dan menjadi “konsumsi” bebas bagi berpasang-pasang mata yang tidak halal melihatnya. Termakan fashionkah? Bisa jadi. Yang jelas, mengenakan celana legging sudah menjadi tren saat ini. Dipadukan dengan atasan dengan berbagai mode membuat para kaum hawa terutama remaja tak terkecuali bagi yang muslimah sekalipun jadi kepincut untuk ikut mengenakannya juga. Karena inilah, celana legging sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi untuk dikenakan di tempat umum mengingat jumlah penggunanya yang kian menjamur.

Dalam pandangan Islam, mengenakan celana legging yang menonjolkan bentuk lekuk tubuhnya dan dipakai di tempat terbuka jelas dilarang. Bahkan dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa wanita yang berpakaian tapi telanjang (masih memperlihatkan bentuk lekuk tubuhnya) tidak akan mencium bau syurga.Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,”…Ada dua golongan penghuni neraka yang belum aku belum melihatnya, yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka gunakan untuk mencambuk orang-orang. Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang menggeleng-gelengkan kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk syurga dan tidak pula mencium baunya, padahal bau syurga itu sudah tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian….” (HR.Muslim 4:2192)
Pemakaian celana legging tentu akan menjadi maklum jika hanya digunakan sebagai dalaman dari dress yang panjang dan lebar yang menutup aurat, ataupun sebagai dalaman dari rok panjang dengan atasan yang panjang dan lebar pula. Mengenakan celana legging tetapi baju atasnya hanya sampai selutut dan membiarkan dua kakinya hanya dibalut oleh kain legging yang ketat, hal ini tentu juga dilarang karena masih memperlihatkan bentuk lekuk kakinya.

Semoga kaum hawa khususnya bagi para muslimah tidak ikut-ikutan terbawa oleh fashion yang bertentangan dengan Islam. Islam sangat menjaga wanita dengan mewajibkan mengenakan jilbab, menjulurkan hingga dada, berpakaian yang longgar dengan tidak memperlihatkan bentuk lekuk tubuhnya dan menutup semua auratnya. Sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam QS Al-Ahzab ayat 59 berikut, “…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,karena itu mereka tidak diganggu…” Sayang, kebanyakan wanita yang mengaku beragama Islam justru tidak mengindahkan perintah-Nya ini. Allahu’alam.


Bila Cinta Membuncah, Bagaimana Mengatasinya??


Cinta, cinta, oh cinta. Memang tak ada habisnya untuk membicarakan kata yang satu ini. Lebih lebih lagi yang lagi jatuh cinta (siapa tuh?). Kata si penyanyi dalam sebuah nyayian, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Duh, rasanya asem, manis, asin, atau pahit ya? Sebelum berbicara soal itu, kita intip dulu yuk, curahan hati dari seorang sahabat berikut! Sssttt…. Kayaknya ada yang lagi patah hati nih…

“Bagaimana mungkin aku menempatkan dirinya begitu istimewa dalam relung hatiku? Hingga aku melupakan kasih dari Tuhanku. Aku menjadi seorang pengkhianat.Aku menyangka bahwa yang kulakukan adalah sebuah jalan dakwah namun hanya bermuara pada dusta. Aku banyak berkholwat dengannya hingga tak kusadari aku menyandarkan hidupku padanya.
Aku telanjur mengukir namanya di hatiku dan berharap bahwa dialah orang pertama dan terakhir yang dipilih Allahuntuk melengkapi hidupku. Namun ternyata yang terjadi tidaklah seperti yang aku harapkan dulu. Aku merasa kehilangan tanpa tahu apa yang telah kutemukan. Aku merasa telah menemukan tanpa tahu apa yang sedang kucari. Aku merasa masih terus mencari tanpa tahu apa yang telah hilang.”

Hmm, kalau lagi jatuh cinta bawaannya memang melankolis, suka menulis yang puitis-puitis. Yah, seperti inilah anak cucu adam jika dihantui virus cinta. Linglung dan serba salah, tak tahu apa yang harus dilakukan. Di setiap tempat selalu ada si jantung hati. Mau di kelas, di kampus, di rumah, di jalan, di bus, ingat si dia terus. Jangan ditanya berapa lama ngelamunin si dia. Wuih… pokoknya sampai menyita waktu belajar, ngerjain tugas tak kunjung kelar, dan menjalar-jalar pada kegiatan lain pula. Duile, sampai segitunya?

Mencintai dengan lawan jenis itu adalah wajar. Dan memeang itulah seharusnya. Justru agama melarang jika kita sama sekali tidak punya rasa tertarik dengan lawan jenis, sementara malah menyimpan rasa dengan yang sejenis. Na’udzubillah. Tetapi Islam mengatur bagaimana rasa ketertarikan dengan lawan jenis ini kita jaga agar tidak bertentangan dengan aturan Islam. Tentu pengikraran cinta dalam bentuk pacaran yang membudaya di kalangan anak muda saat ini adalah hal yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Cinta dua sejoli yang ditunjukan dengan saling bertatapan, berpegangan tangan, bahkan sampai yang lebih dari itu, jelas yang seperti ini akan mendapat lampu merah dalam Islam.

Islam menuntunkan kepada umatnya untuk menahan pandangannya jika melihat lawan jenis yang bukan mahramnya. Sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya…” (QS.An-Nuur 24:30). Beliau Rasulullah SAW juga pernah bersabda kepada Ali ra, “Hai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita) dengan satu pandangan, karena yang pertama itu tidak menjadi kesalahan, tetapi tidak yang kedua.” (HR,.Abu Dawud)

Begitu halnya dengan berpegangan tangan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Jelas berpegangan tangan dengan seseorang yang beum halal untuknya ini dilarang dalam Islam. Aisyah Ra berkata, “Tangan Rasulullah SAW tidak pernah sama sekali menyentuh tangan wanita yang tidak halal baginya.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Bagaimana dengan sobat muda? Memang tidak ada ayat maupun hadist yang menerangkan bahwa pacaran itu dilarang. Tetapi kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan oleh sepasang muda-mudi yang telah berikrar cinta sebelum pernikahan ini pasti akan menjurus pada hal-hal yang dilarang oleh Allah. Ingat! Jalan syaithan itu penuh dengan hal-hal yang indah, dan oleh syaithan jalan yang menyimpang itu dijadikan sebagai hal yang lumrah. Cipika cipiki juga dikatakan lumrah. Bahkan pada yang lebih dari itupun masih juga dinyana lumrah karena sudah biasa dilakukan oleh orang kebanyakan.

Inilah yang terjadi pada umumnya masyarakat kita terutama di kalangan anak muda. Cinta diungkapkan di waktu dan tempat yang tidak tepat, pada saat mereka belum masuk dalam lingkup pernikahan. Saat si dia mengungkapkan perasaannya, maka itu artinya si dia telah “menembak” si gadis untuk menjadi pacarnya. Jika si gadis menjawab “ya”, maka itu artinya mereka berdua telah jadian. Saat inilah, keduanya seolah sudah menjadi “halal” dan dianggap hal yang wajar bagi kebanyakan orang jika mereka berdua sedang bermesraan.

Lalu bagaimana jika hanya sekadar smsan, fban, chatting dan media-media lainnya tanpa ketemuan? Allah berfirman, :Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS.Al-Israa’ 17:32). Allah telah melarang pada jalan-jalan yang menyebabkan seseorang mendekati zina. Siapa yang bias menjamin hanya smsan saja tanpa hasrat untuk bertemu? Padahal kita tahu bahwa syaithan lihai untuk menghasut manusia. Pasti syaithan tidak aka membiarkan manusia stagnan pada tahap smsan saja. Bisikan-bisikan untuk bertemupun semakin digencarkan. Setelah bertemu, tentu syaithan takkan puas hanya sampai di sini. Godaan-godaan lain terus saja dibisikkan hingga manusia benar-benar berada dalam kesesatan.

Dan jika kita bijak menelaah, dari katanya saja sudah sangat jelas bahwa kebiasaan smsan banyak yang tidak mengandung manfaatnya. Sedang Allah berfirman tentang sifat orang mukmin yang beruntung, “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari(perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS.Al-Mu’minuun 23:3)

Saat Cinta Tak Berbalas
Makna cinta itu sebenarnya luas. Cinta bias juga diartikan dengan menyayangi, menyayangi sesame saudara muslim. Sebagaimana sabda-Nya, “Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya (sebagaimana) apa yang ia cintai untuk dirinya.” (HR.Bukhari)

Tetapi sayangnya, orang melulu mengaitkan kata “cinta” dengan virus merah jambu yang menghinggapi hati para anak cucu adam dan hawa. Saat yang dicintai ternyata telah pergi, maka pupuslah sudah semangatnya. Saat yang dicintai ternyata justru menaruh hati dengan yang lain, maka patahlah sudah hatinya. Akibatnya, mereka jadi hilang semangat untuk menjalani hidup. Murung, menyendiri, meratapi perjalanan cintanya yang tak sesuai harapan. Karena sempitnya akal, mereka sampai mengakhiri nyawa karena si dia telah pergi atau cintanya ditolak oleh si pujaan hati.

Anis Matta pernah berkata tentang cinta, “Kita mencintai seseorang lalu kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah kehidupan bersamanya. Maka ketika ia menolak, atau tak beroleh kesempatan, untuk hidup bersama kita, itu menjadi sumbu kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Dan mungkin juga bukan karena cinta itu sendiri. Tapi karena kita meletakkan kebahagiaan kita pada cinta yang diterjemahkan sebagai kebersamaan.”